Petani Lamongan Panen Kedelai Dan Jagung

petani-kedelaiPara petani di Kabupaten Lamongan saat ini sedang panen kedelai, jagung dan palawija. Di antara petani yang panen di Desa Sekarbagus, Derman dan Kalipang kecamatan Sugio. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lamongan Djoko Pramono Kamis (7/8) mengatakan realisasi tanam komoditi kedelai bulan Juli 2008 lahan seluas 505 hektar, di Kecamatan Kembangbahu, Kedungpring, Pucuk, dan Lamongan dengan hasil panen sebanyak 5.974 ton kedelai.

Realisasi tanam jagung bulan Juli tersebar di 14 Kecamatan yakni Sukorame, Ngimbang, Sambeng, Mantup, Kembangbahu, Babat, Lamongan, Sarirejo, Turi, Karanggeneng, Sekaran, Maduran, Laren, dan Paciran seluas 5.145 hektar. Hasil panen jagung sebanyak 4.745 ton, kata Djoko.

Hasil panen palawija tidak dimasukkan dalam laporan karena tanaman tersebut merupakan pendamping. Bahkan petani Lamongan biasanya menanam jenis tanaman palawija seperti cabe, tomat, dan sayuran di pematang sawah tamba. Di musim kemarau seperti ini petan i menggunakan tambaknya untuk menanam jagung atau kedele karena tanah pasca tambak diyakini sangat subur untuk pertanian.

Sumber : Kompas.com

Kedelai Lokal Lebih Baik Dibanding Kedelai Impor

kedelaiKedelai lokal lebih baik dibanding kedelai impor, kata Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Prof Dr Endang Sukara di Cibinong Sciense Center Bogor, Kamis.
“Kedelai lokal lebih baik karena umumnya kedelai yang tersedia adalah kedelai yang baru saja dipanen sehingga lebih segar, sementara kedelai impor biasanya sudah disimpan bertahun-tahun,” katanya.
Dari segi bentuk dan ukuran, menurut dia, saat ini juga sudah banyak kedelai lokal yang berukuran sedang bahkan sama dengan ukuran biji kedelai impor sebesar 16-22 gram per 100 biji sesuai varietasnya.
Anggapan bahwa biji kedelai produksi Indonesia kecil-kecil dan tak disukai oleh industri tempe yang terbiasa dengan kedelai berbiji besar (impor) juga tidak benar, apa lagi ditambah alasan bahwa mutu dan gizi kedelai lokal tidak sesuai dengan industri tempe-tahu.
“Tempe dan tahu yang pada awalnya dikembangkan oleh masyarakat Jawa adalah dari kacang kedelai lokal yang berukuran kecil, tetapi dengan adanya kedelai impor yang ketersediaannya terjamin maka minat masyarakat bergeser ke kedelai impor, ditambah lagi harganya “dumping” dan terdapat keseragaman kualitas,” katanya.
Ia menambahkan, kedelai yang ukurannya kecil-kecil itu sebenarnya lebih banyak mengandung protein dan rasanya lebih gurih.
Ditambah lagi, kedelai lokal merupakan kedelai asli hayati dan bukan kedelai transgenik seperti kedelai impor. Kedelai yang ditanam di negara-negara maju 80 persen adalah organisme yang telah dimodifikasi secara genetik (GMO).
“Pertanian hasil rekayasa genetik dan pangan GMO sampai saat ini masih pro-kontra, karena manusia sulit meramal masa depan. Jadi dengan kedelai lokal tak ada yang perlu dikhawatirkan,” katanya.(*)

Sumber : Antara (17 Januari 2008)